Halqah Islam dan Peradaban HTI DIY Amien Rais : “Hizbut Tahrir, Besarlah!”

 

“Waspada, Indonesia Dalam Bahaya!” Demikian tertulis di dalam publikasi yang beredar, tema Halaqah Islam & Peradaban (HIP) yang diadakan oleh HTI DIY, Ahad (23/10). Sebagaimana sudah diprediksi sebelumnya, peserta HIP yang diselenggarakan di Gedung Auditorium SMM Yogyakarta ini membludak. Sebagian peserta terpaksa harus berdiri karna kapasitas venue yang hanya memuat 700 kursi. Antusiasme peserta bukan hanya karna magnet mantan ketua MPR RI Prof. Dr. Amien Rais dan ketua DPP HTI KH. Rokhmat S. Labib yang dihadirkan sebagai pembicara, namun juga karena secara umum ghirah keislaman umat di indonesia ini tengah meningkat dikarenakan fenomena gubernur kafir Ahok yang muncul sebagai common enemy.  Meskipun sebenarnya acara ini tidak secara khusus membahas Ahok, tapi tak pelak lagi, persoalan Ahok menjadi entry point yang penting dan sangat relevan.

Kedua pembicara memang mengarahkan pembahasan ke spektrum yang lebih luas, ancaman yang jauh lebih besar dan pangkal persoalan yang jauh lebih mendasar. “Indonesia secara dzahir memang tampak merdeka, punya bendera, punya lambang Negara, lagu kebangsaan, dan yang semacamnya, tapi jika ditilik lebih dalam, banyak realitas yang menunjukkan sebaliknya.” Ujar KH. Rokhmat S. Labib, mengawali pemaparannya. Penjajahan di Indonesia bisa terjadi karna sistemnya sendiri yang mengijinkan itu terjadi. “Itulah demokrasi, sistem ramah penjajah!” Tandas beliau. Sistem demokrasi sangat mengedepankan jumlah suara, bukan argumen, apalagi standar syariah halal haram. Jika begitu aturan mainnya, maka penjajah yang merupakan kaum kapitalis dengan mudah bisa membeli suara.

Asing, Aseng, dan Antek
Walhasil, Indonesia memang dikepung penjajah begitu rupa. Dominasi ‘asing’ dan ‘aseng’ sudah sangat terasa, tapi begitu susah dilawan, salah satunya adalah karena adanya ‘antek’. “Dari dulu itu memang yang paling berat kalau berhadapan dengan teman sendiri.” Terang prof Amien Rais. “Orang Islam, tapi munafik!” Tegas beliau. Qur’an pun mengingatkan itu berkali-kali pada kita. “Lihatlah Qur’an, baca awal Al-Baqoroh, 4 ayat menerangkan tentang mukmin, 2 ayat tentang kafir, tapi tentang munafik ada 13 ayat.”

Saat menjawab pertanyaan dari peserta, KH. Rokhmat Labib kembali menegaskan secara tuntas pangkal persoalan dengan studi kasus Ahok. Bagaimana orang seperti Ahok bisa berkuasa?

Pertama adalah karena undang-undangnya membolehkan. Jika ada satu kalimat saja dalam undang-undang tentang syarat pemimpin adalah muslim, maka persoalan Ahok selesai sehebat apapun dia. Pertanyaannya kenapa syarat itu tidak bisa dimasukkan dalam undang-undang? Padahal syarat tersebut wajar belaka mengingat Indonesia mayoritas muslim? Dan wakil rakyat pembuat undang-undang pun mayoritas muslim? Jawabnya adalah karena prinsip demokrasi yang tidak membolehkan syarat semacam itu ada. Dari sini jelas pertentangan demokrasi dengan Islam. Jelaslah demokrasi tidak bebas nilai, dan demokrasi bukan sekedar masalah mekanisme dan prosedural, sebagaimana klaim banyak orang. Demokrasi adalah sebuah sistem yang memuat pandangan hidup tertentu, dan seharusnya menjadi jelas bagi kaum muslim ketika pandangan hidup yang dimuat itu secara prinsipil berbeda dengan pandangan hidup mereka, maka itu adalah sistem kufur.

Kedua, Ahok bisa maju karena adanya partai politik yang mencalonkan dia. Partai politik ini anggota-anggotanya kebanyakan adalah muslim, ketua umumnya pun muslim, dan basis massa mereka pun mayoritas adalah kaum muslim. “Maka sungguh partai ini adalah partai pengkhianat!” Seru ustadz Labib lantang. Partai ini mengumpulkan suara dari kaum muslim dan diberikan kepada calon pemimpin kafir. “Maka sudah selayaknya kaum muslim yang menjadi basis massa mereka, menarik dukungannya dari partai pengkhianat semacam ini!” lanjut beliau.
Ketiga, jika kelak Ahok jadi, maka tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia dipilih, dan pemilihnya tidak mungkin hanya kaum kafir golongan dia saja, karena mereka minoritas. Pasti ada sebagian dari kaum muslim yang ikut memilih dia. Pertanyaannya, kenapa kaum muslim memilih dia? Mereka tentu memilih berdasar pemahaman. “Maka jangan pernah remehkan upaya dakwah yang menyasar pemahaman, karna ini adalah faktor yang paling mendasar.” Pesan ustadz Labib. “Jangan pernah mengatakan bahwa ucapan dakwah itu adalah pekerjaan yang sia-sia tidak ada artinya, karena itu berarti melecehkan para guru dan ulama, bahkan lebih jauh lagi melecehkan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW.” Pungkas beliau.

Walhasil inilah solusi yang mendasar, bahwa kaum muslim harus dipahamkan sehingga mereka menarik segala macam dukungan kepada orang, partai, sistem, dan pandangan hidup apapun yang bukan Islam, dan mengalihkan dukungannya secara benar pada Syariah dan Khilafah.

Ditanya mengenai persetujuannya terhadap Khilafah, Prof Amien Rais mengamini dengan mengatakan bahwa Khilafah adalah long term goal. Kita harus mempersiapkan strukturnya, dan ini tidak mudah dan sebentar. “Maka Hizbut Tahrir, besarlah!” Tegas beliau. “Siapapun Anda, jika mempunyai ide-ide yang luhur, yang Qur’ani, dan juga ‘Muhammadi’, maka perbesarlah diri Anda! Supaya Anda kuat, supaya Anda mampu menyelesaikan pekerjaan yang besar ini, dan musuh-musuh Anda tidak bisa menyentuh Anda, tidak akan mampu mengalahkan Anda. Allah menyukai mukmin yang kuat ketimbang mukmin yang lemah.” Pungkas beliau.

Terakhir beliau menyatakan salut dan memuji prinsip Hizbut Tahrir yang tidak akan menerima dana dari pihak luar siapapun juga. “Jika secuil saja diterima dana dari pihak lain, maka lidah akan kelu ketika menyampaikan kebenaran.”

Facebook Twitter Google Reddit LinkedIn Email